Rupiah Kembali Menguat Dan Paling Perkasa Di Asia

Berita Hari Ini – November tahun ini nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami pergerakan yang sangat cepat. Sempat tertekan, rupiah kembali menguat, lalu melemah lagi hingga akhirnya kembali menguat pada akhir pekan ini.

Rupiah menjadi mata uang yang paling kuat di Asia. Rupiah menguat 70 poin atau 0,48 persen terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mengutip data perdagangan RTI, Jumat (16/11/2018), nilai tukar rupiah bergerak di level Rp 14.595 dan Rp 14.665 per dolar AS.

Sementara itu, dari data perdagangan Reuters, nilai tukar rupiah tercatat Rp 14.598 per dolar AS. Lalu dari data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) nilai tukar rupiah tercatat Rp 14.594 per dolar AS.

Berapa besar penguatan rupiah terhadap mata uang Negeri Paman Sam? Berikut penjelasan lengkapnya:

Rupiah menjadi mata uang yang paling kuat di Asia. Rupiah mengalami penguatan 70 poin atau 0,48% terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Mengutip data perdagangan RTI, Jumat (16/11/2018), nilai tukar rupiah hari ini bergerak di level Rp 14.595 dan Rp 14.665. Bola88

Rupee India menjadi mata uang Asia terkuat kedua setelah rupiah. Rupee menguat 0,19 poin atau 0,26%. Rupee hari ini bergerak di level 71,792 dan 71,977.

Yen Jepang menjadi mata uang selanjutnya yang menguat di Asia hari ini. Yen Jepang menguat 0,23 atau 0,20% dan bergerak di level 113,36 dan 113,60.

Mata uang Thailand baht juga menguat 0,10 atau 0,03%. Baht bergerak di level 32,930 dan 32,970.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira Adhinegara menjelaskan penguatan ini merupakan respons pasar atas kebijakan Bank Indonesia (BI) yang kemarin menaikkan bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 6%.

“Kebijakan BI menaikkan bunga acuan 25 bps jadi 6% diapresiasi pasar menunjukkan bahwa BI sangat preemptive terhadap rencana naiknya Fed rate bulan Desember,” kata Bhima saat dihubungi, Jumat (16/11/2018).

Dia menambahkan pada penutupan bursa hari ini investor asing tercatat melakukan pembelian bersih atau net buy Rp 1,65 triliun.

Kemudian selain faktor domestik, dari faktor global ada tren menurunnya harga minyak ke angka di bawah US$ 70 per barel untuk acuan Brent.

“Bagi Indonesia yang mengandalkan impor minyak ini kabar gembira karena inflasi bisa ditekan,” ujar dia.

Kemudian proses Brexit dengan mundurnya beberapa menteri kabinet Theresa May juga positif untuk rupiah. Dana asing dari Eropa kembali masuk ke Indonesia.

Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah menjelaskan penguatan rupiah melanjutkan penguatan hari kemarin.

Dia menjelaskan langkah BI yang menaikkan suku bunga kebijakan menjadi 6% juga menjadi pendorong menguatnya rupiah terhadap dolar AS.

“Kuatnya sentimen positif ini tecermin dari derasnya arus modal asing yang masuk ke pasar sekunder SBN hari ini, yang mencapai Rp 2,8 triliun, setelah kemarin tercatat Rp 3,5 triliun,” kata Nanang saat dihubungi, Jumat (16/11/2018).

Nanang mengungkapkan sejak 3 September 2018 hingga 16 November 2018 arus modal asing yang masuk ke SBN mencapai Rp 43,06 triliun.

Menurut Nanang, hal ini mencerminkan bahwa investor global melihat beberapa langkah kebijakan otoritas Indonesia semakin kredibel dalam merespons baik tantangan global maupun domestik.

Selain itu, penguatan rupiah juga terjadi karena pasar valuta asing (valas) yang semakin likuid. Kemudian dengan tersedianya instrumen Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) menjadikan fluktuasi kurs NDF di pasar luar negeri lebih terkendali.

“Kurs NDF luar negeri menjadi convergence dengan kurs DNDF. Ini karena Bank Indonesia selalu siaga untuk memastikan ketersediaan likuiditas di pasar DNDF, baik melalui mekanisme lelang maupun intervensi secara langsung,” ujarnya.

Daftar disini !!!

Mungkin Anda Menyukai