Polisi Investigasi Istri Najib Razak Usai Diperiksa KPK Malaysia

majalahdunia.com – Istri mantan Perdana Menteri Najib Razak, Rosmah Mansor, diperiksa kepolisian Malaysia terpaut penyelidikan asumsi kasus pencucian uang dana lembaga investasi 1 Malaysia Development Berhad (1MDB) yang menjaring suaminya.

Pemeriksaan Rosmah oleh polisi berlanjur tidak lama setelah perempuan 72 tahun itu diberi pertanyaan untuk kedua kalinya pada Rabu (26/9) oleh penyidik Komisi Anti-Korupsi Malaysia (MACC).

Noor Rashid Ibrahim, Wakil Inspektur Jenderal Kepolisian Diraja Malaysia, meminta Rosmah untuk memvalidasi perhiasannya yang telah disita.
“Kami menyita barang-barang di rumah mantan PM Najib Razak dan di sebuah unit apartemen di Pavilion Residences. Rosmah akan dipanggil lagi karena perhiasan yang disita itu diduga miliknya,” ucap Noor Rashid kepada vivobetting, Kamis (27/9).

“Kami membutuhkan kesaksiannya untuk mengidentifikasi dan mengonfirmasi barang-barang itu. Diperkirakan pemeriksaan ini membutuhkan waktu yang panjang karena barang sitaan banyak dan kami perlu melacaknya ke pembeli/penjual.” tambahnya.

Sebelumnya, MACC mengatakan pemeriksaan Rosmah telah tuntas dan sudah diserahkan ke Mahkamah Agung. Badan anti-rasuah itu tidak menutup kemungkinan Rosmah akan segera dijatuhi tuntutan.
Walaupun begitu, keputusan penjatuhan tuntutan sepenuhnya berada di tangan Mahkamah Agung. Sebelumnya, Rosmah diestimasikan akan dijatuhi sedikitnya 20 tuntutan kasus pencucian uang terkait 1MDB.

Dalam kesempatan itu, Noor Rashid menerangkan bahwa Najib juga akan menghadapi sejumlah tuntutan lain terkait 1MDB. Polisi masih melakukan investigasi terhadap kasus tersebut.

“Ya, akan ada dakwaan tambahan terhadap Najib karena banyak investigasi yang masih berjalan sekarang, termasuk di bawah Undang-Undang Pelanggaran Kepercayaan Pasal 409, UU Anti-Pencucian Uang, UU Anti-Keuangan Terorisme, dan UU Aktivitas Diluar Hukum 2001 (AMLATFA),” ucap Noor Rashid.
Noor Rashid mejelaskan, investigasi Rosmah Mansor terbilang rumit dan membutuhkan pengawasan ketat sebab sejumlah bukti terdapat di beberapa negara asing.

“Karena itu kita perlu melalui Jaksa Agung untuk mendapatkannya (bukti). Negara-negara yang terlibat itu Swiss, Singapura, Amerika, dan dua negara lainnya. Kami sudah menghubungi Jaksa Agung masing-masing negara dan koordinasi sudah dilakukan, tetapi penyelidikan tetap memakan waktu.” kata Noor Rashid.

main-di-sni

slideshow_468x90

Mungkin Anda Menyukai