Menelusuri Jejak Perusakan Gereja di Sumsel

Majalah Dunia- Gereja Khatolik Santo Zakaria di Ogan Ilir, Sumatera Selatan dirusak. Polisi langsung gerak cepat mengamankan tujuh pelaku.

Pelaku masuk dan merusak tempat ibadah yang digunakan sekitar 60 jemaah saat sedang hujan lebat pada Kamis (9/3) lalu sekitar Pukul 01.00 WIB. Mulai dari dinding, jendela, dan sejumlah kursi yang ada di dalam gereja rusak dan sempat akan dibakar.

“Tindakan pelaku murni kriminal, untuk motif saat ini masalah pribadi karena ada yang merasa tidak puas saat proses pemilihan kepala desa. Kalau keterangan dari warga, katanya ada enam orang tak dikenal yang melakukan perusakan,” kata Kapolda Sumsel, Irjen Zulkarnain Adinegara.

Warga yang mengetahui hal itu awalnya berfikir jika ada pekerja yang melakukan renovasi bangunan. Gereja baru dilakukan renovasi pada akhir 2017 lalu dan diresmikan pada 4 Maret atau 5 hari sebelum peristiwa perusakan terjadi.

Merasa ada kejanggalan, warga pun akhirnya memutuskan untuk keluar dan melihat apa yang sedang terjadi di luar rumah mereka. Betapa kagetnya warga setelah mengetahui ada orang sengaja melakukan perusakan tempat ibadah.

Mendapat laporan itu, tim gabungan dari Subdit III Jatanras Polda Sumsel dan Polres Ogan Ilir langsung memburu para pelaku. Bahkan, polisi juga diketahui menurunkan anjing pelacak dan dapat bantuan dari tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri.

Sepekan setelah kejadian atau pada Kamis (15/3) sekitar Pukul 03.00 WIB, polisi berhasil menangkap Yono di Bangka. Dalam waktu bersamaan, polisi juga menangkap Panhar saat sedang berada di rumahnya di Ogan Ilir.

Setelah melalui proses penjang, penyidik kembali mnangkap dua saudara kembar Wahri Yatun dan Wahri Ris yang kabur ke Pangkal Pinang. Dari total empat pelaku ini, penyidik melakukan pemeriksaan secara maraton dan menetapkan mereka sebagai tersangka.

Tidak berhenti di situ, pada Sabtu (17/3) sekitar Pukul 18.00 WIB, salah seorang pelaku bernama Anom yang sudah dalam keadaan ketakutan datang dan menyerahkan diri ke Polda Sumsel. Kepada polisi, Anom mengaku disuruh oleh oknum Kades Rantau Alai, Aswin dan oknum Kepsek, Afifuddin untuk merusak Gereja Khatolik Santo Zakaria.

“Kalau dari pengakuan mereka begitu. Mereka diajak oleh pelaku berinisial An (Anom) dan dibayar oleh oknum Kades Rantau Alai dan Kepsek salah satu SMA Negeri di Rantau Alai untuk merusak gereja,” kata Zulkarnain.

“Motifnya itu karena mereka iri gereja itu dibangun. Termasuk marah sama Kades Mekarsari yang memberikan izin pembangunan gereja lebih cantik,” kata mantan Kapolda Riau ini.

Selain ketujuh pelaku itu, Zulkarnain mengatakan masih ada pelaku lain yang ikut terlibat. Termasuk beberapa aktor intelektual yang memberikan arahan dan upah pada pelaku untuk merusak gereja yang sudah ada sejak tahun 2.000 lalu.

Selain pelaku, polisi juga mengamankan barang bukti berupa hammer, pakaian dan sepeda motor yang digunakan saat beraksi. Bahkan pelaku terancam pasal berlapis tentang perusakan, percobaan pembakaran dan pencurian dengan ancaman maksimal 12 tahun penjara.

Hingga berita ini diturunkan, polisi masih melakuka pemeriksaan dan memburu pelaku lain yang telah dikantongi indentitasnya.

banner-panjang-vivo7bet

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: