Hukuman Bagi Pelaku Kekerasan Pada Hewan Di Indonesia

MajalahDunia.com – Beberapa tahun lalu seorang teman dari Negara lain berkata pada saya bahwa Negara Indonesia adalah SURGA bagi kaum Sadis yang senang Menyiksa dan Membunuh binatang untuk Kesenangan dan Kebanggaan… Saya masih bisa berdalih dan beragumentasi.

Tapi dalam kesempatan beberapa waktu lalu di sebuah acara komunitas anjing di Jakarta, seorang ibu tua menyampaikan dan menanyakan ke saya di depan para pemilik anjing yang hadir  tentang kegundahan hatinya melihat dan mendengar penyiksaan terhadap binatang (anjing) yang ada di sekitar perumahannya.

Ibu ini bertanya “Apakah tidak ada undang-undang atau peraturan di Indonesia yang katanya beradab ini, atau peraturan yang membatasi masyarakat Indonesia untuk tidak berbuat seenak hatinya terhadap binatang ? Walaupun hanya Anjing tapi anjing masih tetap Ciptaan Tuhan yang punya hak untuk hidup layaknya seekor anjing” kata sang ibu…

Saya hanya bisa berdiam sejenak sambil menundukan kepala. Seperti inikah keadaan dan situasi perlakuan dan pandangan bangsaku, Indonesia ?

Beberapa waktu lalu saya juga diperlihatkan foto – foto yang membuat saya merenung :

  • Seekor anjing dengan mulutnya hancur karena ledakan petasan yang di ikat pada mulutnya.
  • 2 ekor Anjing besar yang dijadikan dalam 1 kandang yang tidak layak ukurannya untuk di muat oleh dua ekor anjing ketika dalam perjalan di kirim ke daerah dengan menggunakan kereta.
  • Penyiksaan terhadap hewan dan pembantaian kucing hutan yang diduga dilakukan oleh mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Jawa timur. Padahal sudah jelas sekali kalau hewan-hewan ini termasuk kategori satwa dilindungi. Bagaimana bisa seorang mahasiswa berlaku seperti ini ?
  • Orang hutan yang mati terpanggang karena hutan tempat mereka hidup sengaja di bakar untuk dijadikan perkebunan dan orang hutan yang masih hidup konon kabarnya sengaja di bunuh agar tidak mengganggu para pekerjanya… Orang hutan jelas di Lindungi lho”.
  • Jawa tengah. Seorang warga menembaki kucing-kucing tak berdosa di lingkungan tempat tinggalnya. Setelah puas dengan aksi konyolnyanya, si pelaku memamerkan hasil kekejamannya dan senjata senapan angin yang digunakan buat beraksi. Nah konon kabarnya pihak kepolisian kebingungan untuk menjerat pelaku dengan pasal dan undang-undang apa…? Semoga ini tidak benar.
  • Foto seekor anjing yang jelas terlihat bekas luka pada bagian kepala depan dan bekas bengkak pada bagian belakangnya akibat hasil upaya pelatih anjingnya untuk membuat anjing menjadi pintar. Haruskah membuat pintar dengan penyiksaan ?”
  • Masih banyak lagi foto-foto yang di perlihatkan pada saya.

Perlakuan-perlakukan sekelumit masyarakat Indonesia pada hewan-hewan ini membuat saya merenung “Inikah Indonesiaku yang dulu terkenal manis budi bahasa dan lemah lembut perangainya…?

Walau kabar berita sudah tersebar sampai ke penjuru dunia dan kecaman keras telah sering ada, serta bukan rahasia umum lagi. Namun hal penyiksaan dan kekerasan atau penelantaran pada hewan di Indonesia ini rupanya tak membuat Malu atau Jera para pelaku dan seolah para pelaku seperti menantang Public di Indonesia yang seolah Tidak Dapat Berbuat apa-apa….

ilustrasi

Memang Kekerasan terhadap hewan di Indonesia, kian hari rupanya kian marak. Ironisnya, pelaku kekerasan seolah Bebas dan Lepas dari jeratan Hukum yang sebenarnya SUDAH ADA dengan tegas Mengaturnya. Tragisnya lagi,Para pelaku malahan sangat bangga dengan apa yang dilakukannya. Mereka bercerita kemana-mana dan di media sosial bahkan mereka mengunggah foto-foto hasil karyanya terhadap hewan.Hebatnya lagi, mereka sangat berani memperlihatkan hasil karya kejinya pada hewan-hewan yang sudah jelas sekali di Lindungi di Indonesia ini. Luar biasa dan Menyedihkan….

Para pelaku seolah-olah Membuktikan bahwa di Negara Republik Indonesia tercinta ku ini Tidak Ada Hukum atau Undang-Undang yang dapat menjerat para penganiaya, penyiksa hewan dan pembunuh hewan tanpa sebab. Padahal Hukum dan Undang-Undang perlindungan Hewan di Negara Republik Indonesia ini ternyata SUDAH ADA dan JELAS ! Sangsi Hukumannya juga Tidaklah Ringan.

Mari kita coba telusuri dan amati ….

Freedom for animal

Jika mengacu pada peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia dan Undang-undang tambahan lainnya selain KUHP, maka hukuman dan denda dalam hukum Perlindungan Hewan yang di tentukan di Negara Indonesia juga tidak boleh dianggap Ringan jika kita membaca undang-undang  dan Ketentuan yang Menyesuaiankan sangsi hukum pada waktu saat ini. Hukuman tuntutannya bisa berlapis seperti ;

  • Mengenai hal Pelaku praktek “Kekerasan” Pada Hewan Yang Dilakukan Dalam Masyarakat, Termasuk perbuatan ; Pemukulan, Penusukan, Pencekikan, dan Pembuangan hewan.

Setelah kita coba mengkupas secara garis besar tentang Dasar Hukum Perlindungan Hewan di Indonesia yang sudah ada, maka selanjutnya kita dapat menengok uraian UU perlindungan Hewan yang telah dilakukan Penyesuaian dengan Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia, Nomor 02 Tahun 2012.

(Kitab Undang-Undang Hukum Pidana – KUHP)

UU Perlindungan Hewan KUHP

Pasal 302

Pasal ini merupakan pasal dalam Hukum yang mengatur tentang kejahatan yang dilakukan terhadap hewan, termasuk anjing dan kucing.

  1. Melakukan penganiayaan ringan terhadap hewan (dengan sengaja menyakiti atau melukai hewan atau merugikan kesehatannya,atau tidak memelihara hewan peliharaannya dengan layak ) diancam dengan pidana penjara paling lama 3 bulan atau pidana denda paling banyak 45.000.000,-
  • Perma No. 2 Tahun 2012 tentang Penyesuaian Batasan Tindak Pidana Ringan dan Jumlah Denda dalam KUHP
  1. Jika melakukan penganiayaan berat terhadap hewan (sakit lebih dari seminggu, luka-luka, cacat atau mati), diancam dengan pidana penjara paling lama 9 bulan atau pidana denda paling banyak 3.000.000,-
  • Perma No. 2 Tahun 2012 tentang Penyesuaian Batasan Tindak Pidana Ringan dan Jumlah Denda dalam KUHP.
  1. Jika hewan tersebut milik yang bersalah,maka hewan tersebut dapat dirampas.
  2. Percobaan melakukan kejahatan tersebut tidak dipidana.

Melihat kasus- kasus yang sudah saya sebutkan, maka dapat kita simpulkan bahwa penegakan hukum Pasal 302 KUHP HARUS dilaksanakan oleh penegak hukum. Jadi, hal ini kiranya cukup untuk menepis anggapan masyarakat Indonesia pencinta Hewan bahwa Pasal 302 KUHP hanyalah pasal  lemah dan tidak berguna.

Menurut saya Rachmatdi Hatmosrojo, SH alias Aang Chambaraya, Pasal 302 KUHP bukanlah pasal lemah yang hanya sebagai pelengkap KUHP saja, melainkan merupakan pedoman awal dalam memperlakukan hewan secara wajar yang harus kita Kawal bersama.

Mungkin inilah saatnya bagi para pemilik hewan, organisasi pencinta hewan dan para sarjana hukum pencinta hewan, serta aparat Negara pencinta hewan harus bersatu untuk selalu Mengkumandangkan dan Mensosialisasikan Undang-Undang tentang Perlindungan Hewan dan Sangsinya ke seluruh lapisan masyarakat Indonesia, dari ke sesama pemilik binatang sampai ke masyarakat awam pada binatang.

Ini semua adalah Tanggung Jawab kita semua”, dan Tidak berjalannya sistem hukum perlindungan hewan di Indonesia adalah karena SALAH KITA SEMUA pemilik hewan, pencinta hewan dan para pihak berwenang yang tidak pernah berbuat dan bertindak secara Nyata dan Tegas serta Terus Menerus secara Konsisten untuk berusaha melindungi Hewan di Indonesia dengan Hukum formal yang sudah ada. Mari Peduli !!

Logikanya…. Jika tidak memiliki uang maka sangsi denda bisa diselesaikan dengan mencari hutangan, namun jika sangsi pidana kurungan badan atau penjara… Tidak Bisa pinjam badan orang lain untuk di masukan dalam ruang tahanan. Pandangan masyarakat juga berbeda terhadap seseorang yang pernah masuk tahanan / penjara..

Semoga dengan paparan ini akan akan membantu mewujudkan harapan banyak warga Indonesia agar kiranya ada Biro Hukum Perlindungan Hewan di Indonesia umumnya dan di masing-masing Komunitas Pencinta Hewan Khususnya yang nantinya akan bahu membahu memperjuangkan nasib para hewan yang hidup di bumi Indonesia ini.

Ingat! Kita sebagai pemilik hewan semakin sering melakukan sosialisasi tentang adanya Undang-undang Perlindungan Hewan beserta Sangsinya, dan melakukan Pelaporan atau Penuntutan ke pihak yang berwajib / berwenang untuk menindaklanjuti laporan, maka Sikap Peduli ini nantinya kian hari akan semakin membuat jera para penyiksa dan penelantar hewan di Indonesia, namun semua ini tidak akan ada hasilnya jika dari pihak yang berwenang TIDAK turut Aktif  Menanggapi dan menindaklanjutinya dengan memberikan sangsi kurungan maksimal untuk efek jera.

Jika kita Tidak berani melaporkan ….

Sama juga sia-sia kita Menyatakan diri sebagai penyayang hewan.

Mari berbuat sesuatu berdasarkan porsi kemampuan diri kita masing-masing !

Sedikit  tindakan / aksi NYATA anda pasti akan dapat Merubah Indonesia tercinta ini menjadi lebih Baik. Jika bukan dimulai dari kita, lalu siapa…? 

Jadi sudah sangat Jelas khan . . . ?!

Hukum Perlindungan Satwa di Indonesia sudah Tegas Sangsinya dan Nyata pasalnya tapi hanya masalah PENEGAKANNYA saja.

Kurangnya Penegakan hukum Perlindungan Satwa dikarenakan SOSIALISASI pasal dan sangsi pada peraturan / undang-undang yang melindungi hak satwa kurang Transparan sehingga PELAKSANAAN atau TINDAKAN para pihak yang berwenang menjadi terlihat Belum Tegas dan Nyata.

Sumber : kaki-Indonesia.id

 

Bingung memilih Agen Judi Online Terpercaya? Main saja di Agen Judi Online VIVO7BET. Hanya dengan 1 id sudah bisa bermain semua permainan. Bisa Parlay 2 Tim dan Parlay Bola Jalan. Nikmati juga bonus deposit pertama bagi member baru 15% untuk semua permainan !!

Agen Judi Online Terbaik VIVO7BET

daftar (1)

Reward VIVO7BET Untuk Member Setia (Grand Prize Motor Ninja 250 FI 2018)

Promo Reward Vivo7bet

Judi Bola SBOBET Maxbet268

Bonus Deposit Awal 15% & Next Deposit 10%

daftar

Mungkin Anda Menyukai

%d blogger menyukai ini: