Mahasiswa China di Luar Negeri: Xi Jinping Bukan Presiden Kami

Majalah Dunia- Palu sudah diketok. Kongres Rakyat China telah memutuskan untuk mencabut masa jabatan presiden. Pencabutan yang dilakukan Minggu (11/3/2018) tersebut memberi jalan kepada Xi Jinping untuk berkuasa di China tanpa batas waktu.

Sebuah langkah yang bagi pendukung Xi sangat penting demi pemberantasan korupsi, namun mendapat penolakan dari mahasiswa Negeri “Panda” yang tengah menimba ilmu di luar negeri. Mereka memutuskan menyebarkan poster berisi gambar Xi disertai kalimat Xi’s Not My President (Xi Bukan Presiden Saya).

Salah satunya terjadi di Universitas Nasional Australia, Canberra. Mahasiswa bernama Wu Lebao menempelkan poster dalam bahasa Mandarin dan Inggris, Wu menempelkan poster tersebut dengan harapan memberi pencerahan kepada rekan-rekan satu negaranya.

“Sejak pertama berkuasa, Xi sudah menampilkan diri sebagai sosok diktator. Pencabutan itu bakal memberikan perubahan yang sangat besar di China,” kata Wu.

1918379369 (1)

Selain di Canberra, poster dengan tulisan sama juga dijumpai di Universitas Curtin di Perth, maupun Monash University di Melbourne.

Namun, pelajar China yang lain di Australia mengaku tidak tahu akan adanya kampanye penolakan terhadap Xi. Mereka berkata, isu tersebut memang sangat sensitif. Tetapi, mereka membahasnya sebagai bentuk candaan.

“Kebanyakan dari kami tidak peduli,” kata mahasiswa yang namanya tidak ingin dipublikasikan.

Dimulai dari AS Gerakan penolakan terhadap pemimpin 64 tahun tersebut berawal dari Universitas California di San Diego, Amerika Serikat (AS) pada 1 Maret lalu. Dilaporkan Foreign Policy via SBS News, gerakan #NotMyPresident mulai menyebar di New York dan Columbia, hingga merambah ke luar AS.

Selain Australia, pelajar China di Kanada, Belanda, Hong Kong, Inggris, maupun Perancis juga melakukan langkah serupa. Selain itu, muncul akun Twitter bernama Xi’s Not My President, dan melaporkan keberadaan poster-poster yang ditempelkan di berbagai negara. Penggagas kampanye berkata, mereka marah dengan propaganda bahwa Xi bertahan sebagai presiden seumur hidup merupakan “permintaan seluruh rakyat China”.

“Kami ingin menyuarakan masih ada media sosial lain yang tidak bisa mereka awasi dan sensor,” ujar kelompok tersebut. David Brophy, dosen Sejarah China di Universitas Sydney mengaku terkejut dengan geliat penolakan akan presiden yang sudah berkuasa selama dua periode tersebut.

” Pelajar itu merasa, lebih baik menyuarakan kritik lewat komunitas sendiri dari pada memberi tahu kepada dunia Barat,” kata Brophy.

Masih Takut untuk Menyuarakan Pendapat Meski kampanye penolakan terhadap Xi bergema di seluruh dunia, masih ada pelajar China yang takut untuk mengambil bagian. Terdapat risiko jika para pelajar itu sampai ketahuan oleh Beijing, dan diberi label sebagai pembangkang.

Salah satunya adalah ancaman kesulitan mendapat pekerjaan yang dihadapi pelajar tersebut ketika mereka kembali ke China.

“Belum lagi ancaman dipenjara tanpa melalui proses hukum. Karena itu, banyak pelajar China lain yang memilih bungkam,” ujar seorang pelajar yang namanya tidak ingin diketahui. Pendapat yang sama juga disuarakan oleh Brophy. “Bagi siapapun yang berniat kembali ke China, mereka bisa dituduh aktif berpolitik di luar negeri,” ujarnya.

banner-panjang-vivo7bet

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan