Fahri Hamzah dan Fadli Zon Dinilai Belum Jadi Oposisi Sejati

Majalah Dunia- Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon dan Fahri Hamzah dianggap belum bisa menjadi oposisi sejati yang ampuh mengkritik penguasa.

Pengamat politik Ray Rangkuti menilai perilaku Fadli dan Fahri jadi cerminan bahwa partai oposisi saat ini tidak menjalankan fungsinya dalam menawarkan gagasan alternatif.

Menurut Ray, baik Fahri maupun Fadli, keduanya masih terlalu banyak membicarakan hal yang remeh temeh dan tidak menyasar pada permasalahan bangsa.

“Sejatinya orang sebesar Fahri dan Fadli setiap berbicara mestinya jadi bahan perhatian publik, bukan menimbulkan olok-olok,” ujar Ray pada sebuah diskusi di Cikini, Jakarta, Jumat (9/3).

Ray mencontohkan saat Presiden Joko Widodo mengunggah vlog latihan tinju. Menurutnya video tersebut biasa saja dan tidak ada hal yang harus dikomentari berlebihan. Namun Fahri dan Fadli kompak berkomentar miring dan mengaitkan dengan pilpres 2019.

Dalam cuitan di Twitter, Fahri ingin melihat Jokowi beradu tinju dengan mantan Danjen Kopassus, yang tidak lain adalah Prabowo Subianto. Fadli pun sempat mengatakan Jokowi akan babak belur jika harus bertinju dengan Ketua Umum Partai Gerindra tersebut.

“Hal seperti itu saya rasa mereka harus mulai mengatur diri, mana wilayah penting yang dikomentari mana yang tidak,” ucapnya.

Ray menambahkan sebetulnya Fadli dan Fahri bisa mewakili oposisi untuk mengoreksi kekuasaan. Hal ini penting sebagai bagian dari pendidikan kepada masyarakat dalam berdemokrasi.

Menurutnya hanya partai di luar kekuasaan yang mampu melakukan pendidikan politik kepada publik terkait hal itu.

“Di mana-mana partai penguasa fokus mempertahankan kekuasaaan. Yang efektif partai yang di luar kekuasaan,” ujar Ray.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Indonesia Watch for Democracy (IWD) Abi Rekso menyebut manuver Fahri dan Fadli seperti menawarkan gagasan, tetapi sebenarnya berniat menjatuhkan pihak lain.

Menurut Abi, sebagai oposisi seharusnya Fahri dan Fadli melakukan kritik terhadap kebijakan partai penguasa yang masih belum sempurna.

“Kritik berangkat dari kebijakan, misalnya banyak proyek terlambat, infrastruktur berantakan, kebijakan ekonomi, kenapa tidak diserang di situ?,” ucapnya.

banner-panjang-vivo7bet

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan