Ini Cerita Warga Soal Marbut di Garut yang Rekayasa Penganiayaan

Majalah Dunia- Garut – Uyu Ruhyana, seorang marbut Masjid Besar Al-Istiqomah, Pameungpeuk, Garut, dikabarkan menjadi korban pengeroyokan oleh orang tak dikenal.

Informasinya sempat viral. Polisi memastikan itu hoax dan rekayasa korban.
Hal itu diperkuat keterangan warga sekitar yang tidak mendengar keributan dari dalam masjid.

Hal tersebut dikatakan Fahrudin (37), warga yang tinggal di dekat lokasi kejadian tepatnya di Jalan Kaum Tengah, Pameungpeuk, Saat kejadian ia mengaku tak melihat gelagat mencurigakan dari dalam masjid.

“Saya mah lagi ngeronda. Tadi itu saya pulang sekitar jam setengah empat subuh. Jam setengah empat itu tadi saya ada di lokasi tempat pak Uyu (Masjid Al-Istiqomah),” kata Fahrudin kepada wartawan di lokasi kejadian, Rabu (28/2/18) sore.

Uyu mengaku dikeroyok oleh lima orang tak dikenal di dalam masjid tersebut, Informasi yang dihimpun dari pihak kepolisian, Uyu dikeroyok sekitar pukul 04.20 WIB.

Fahrudin mengatakan ia tidak mengetahui aksi pengeroyokan itu terjadi, Ia hanya mengetahui Uyu dibawa ke rumah sakit pada siang harinya.

“Gak tahu saya mah (Uyu dikeroyok). Ya sebatas tahu cuma dari pengumuman, Pak Uyu katanya dibawa ke puskesmas. Ada yang nyerang,” katanya.

Sementara itu Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Jabar Kombes Umar Surya Fana memastikan kasus penganiayaan yang sempat viral itu rekayasa.

Setelah memintai keterangan warga sekitar dan melakukan interogasi terhadap korban polisi mendapat informasi terkait kejadian tersebut.

“Pada hari Rabu tanggal 28 Februari 2018, diperkirakan sekitar pukul 04.20 WIB, telah terjadi penyerangan terhadap Uyu Ruhyana, marbut di Masjid Besar Al-Istiqomah,” katanya.

Umar menjelaskan kejadian tersebut pertama kali diketahui oleh Agus dan Dedeh, pasutri yang saat itu kabarnya akan melaksanakan salat subuh.

“Saat membuka pintu, masjid masih dalam keadaan gelap. Ketika saksi Dedeh menyalakan lampu, melihat Uya dengan keadaan tangan terikat oleh mukena, mulut sudah tertutup sorban, kaki terikat oleh mukena dan kopiah sobek serta kursi kayu dalam keadaan patah,” katanya.

Melihat Uyu dalam keadaan tersebut, keduanya kemudian memanggil warga setempat untuk membawa Uyu ke Puskesmas Pameungpeuk.

Setelah menerima laporan warga terkait kejadian tersebut, polisi kemudian melakukan pra rekonstruksi. Polisi menemukan kejanggalan.

“Tidak ditemukan adanya luka sedikit pun pada tubuh sebagaimana pengakuan korban dibacok oleh pelaku sebanyak lima orang,” kata Umar.

Polisi kemudian terus menggali keterangan dari Uyu. Dikatakan Umar, Uyu kemudian mengakui perbuatannya tersebut direkayasa.

“Korban mengakui bahwasanya peristiwa tersebut merupakan rekayasa dari korban itu sendiri,” ujar dia.

banner-panjang-vivo7bet

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan